Dimana tanggung jawabmu PT. Dituka Raharja Grup Duta Putra ?

Posted in Bukit Dago, Dislike dengan kaitan (tags) , , , , , , , on April 6, 2009 by namakuhandi

Sebagai calon penghuni rumah di perumahan Bukit Dago Blok E4 No 2 Cluster Casablanca, Pamulang. Saya sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh PT. Dituka Raharja selaku pengembang.

Antara bulan November hingga sebelum dilakukannya akad kredit pada tanggal 18 desember 2008, pihak developer melalui marketingnya (Bapak Albert), menjanjikan kepada saya bahwa jika saya setuju untuk mengikuti akad kredit pada tanggal 18 Desember 2008, maka kualitas bangunan yang saya beli tidak akan mengalami penurunan mutu.

Selain itu, untuk memperkuat pernyataan diatas, saya meminta pihak pengembang untuk memberikan sebuah surat keterangan yang menyatakan kesanggupan untuk menyelesaikan pembangunan sesuai tenggat waktu yang ditandatangani (surat diterbitkan tgl 17 Desember 2008) oleh Bapak Herry selaku kepala proyek, yang menyanggupi untuk menyelesaikan pembangunan dalam tempo dua bulan terhitung dari diterbitkannya surat keterangan tersebut yang semestinya sudah bisa diserahterimakan pada tgl 17 Februari 2009.

Kenyataannya, hingga surat ini dibuat (05 April 2009), belum ada proses serah terima kunci. Dan bahkan belum semua hak saya diberikan sebagai bagian penyerahan rumah kepada saya selaku pemilik, antara lain : pagar dan pintu pagar dan bahkan kunci jendela, kunci jendela yang adapun sudah rusak sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dan demi kenyamanan sendiri karena, akhirnya saya sebagai pemilik berinisiatif untuk memasang sendiri kunci jendela.

Sementara dari kualitas bangunan, lis plang di bagian belakang rumah pecah dan hanya didempul bukannya diganti dan terdapat lis plang yang mulai melengkung karena basah. Plafon kamar mandi terlihat dipasang seadanya, bahkan hanya disangga dengan paku kecil, begitupun pintu kamar mandinya rusak. Pada pintu utama dekat engsel terdapat retak, dan terdapat handle pintu yang mulai rusak dan berkarat, selain itu pintu belakang terlihat miring.

Selain itu, tembok dalam sisi depan pada kamar tidur depan mengalami lembab diperparah jika terjadi turun hujan. Dan juga terdapat retak dibeberapa bagian tembok, bahkan terdapat permukaan tembok yang bergelombang yang memperlihatkan bahwa pelaksanaan pembangunan dilakukan asal jadi. Bahkan pada pemasangan instalasi listrik terdapat stop-kontak indoor yang dipasang di outdoor, apakah pihak developer tidak terpikirkan akan terjadi korsleting jika turun hujan ?

Selain itu, terdapat kebocoran di bagian dalam rumah yang tentunya mengakibatkan rusak pada gypsum dan lis gypsum. Bahkan pagar ketika ditanyakan selalu dan selalu jawabannya kehabisan stok. Apakah seperti ini perencanaan bangunan yang dibuat oleh developer, masing-masing komponen rumah tidak disediakan sesuai dengan DO pengerjaannya ?

Sebagian foto dari beberapa bagian rumah yang bermasalah :

Ide

Posted in Opini dengan kaitan (tags) , , , on April 4, 2009 by namakuhandi

Aku sendiri ngga tahu kapan sebuah ide itu akan nyangkut diotakku. Hla gimana mo nyangkut, terbersit aja juga ngga.

Tapi kasus itu hanya kalo aku sedang dalam kondisi floating.

Berbeda jika aku sedang senang ato sedih. Ide itu terasa mengalir begitu saja. Dan seakan ada dorongan terdalam yang memaksaku untuk menumpahkan perasaanku itu. Dan sayangnya, ide itu mudah berlalu tersapu angin. Andai aku tidak langsung berhadapan dengan alat tulis ataupun laptopku tercinta untuk segera menuangkan dan menerjemahkan sinyal-sinyal hati. Dalam sekejap itu pula ide itu tak berbekas.

Gimana caranya ya menahan ide itu meski mood kita sudah berubah…

Dan jika aku prosentasekan, lebih banyak ide tercipta manakala aku sedang sedih, tertekan ataupun perasaan ngga nyaman lainnya. Dibanding ketika aku sedang merasa senang.

Mungkin sudah jamak begitu kali ya… Dan aku yakin udah banyak tulisan yang menelaah soal menulis tergantung situasi.

Entahlah…

Seperti saat ini, entah kenapa aku langsung ingin nulis. Ya mumpung aku gie mood ya tulis aja. Dan mumpung otak ma tanganku gie sinkron. jadinya apa yang ada diotak langsung ketuang dalam bentuk tulisan.

Apa karena aku sedang mood. Entah good mood or bad mood. Ah i don’t care anyway. Yang terpenting saat ini aku gie pengen nulis.

Penting ngga sie .. ???

Entah itu penting ato ngga… toh kebutuhan untuk mengungkapkan isi hati ngga tergantung ma penting or ngga penting dari isi tulisan itu kan ?

Setahuku, nulis adalah salah satu bentuk dari ekspresi. Yang mungkin ngga akan semudah ketika kita mengajak teman dekat kita untuk sharing dan berbicara. Dan juga sebagian besar orang mengalami kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu dalam bentuk verbal tinimbang dalam bentuk tulisan.

Iya kan….

Renungkanlah

Posted in Poem dengan kaitan (tags) , , , on April 1, 2009 by namakuhandi

IMAJINER DOA

Oleh:/ Ratih Sanggarwati/

Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis:*

“Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang

Sholeh. Beri aku suami

Yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”*

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:*

“Ya Allah beri aku anak yang sholeh Dan

Sholehah, agar mereka dapat

Mendoakanku ketika nanti aku mati Dan menjadi

Salah satu amalanku

Yang tidak pernah putus.”*

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku

Lahir*:

“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan

Mereka di sekolah Islami

Yang baik meskipun Mahal, beri aku rizki untuk

Itu ya Allah….”*

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah

Mulai sekolah:*

“Ya Allah….. Jadikan dia murid yang baik

Sehingga dia dapat bermoral

Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada

Usia muda..”*

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah

Beranjak remaja:*

“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus

Modernisasi yg

Mengkhawatirkanku.

Ya Allah aku tidak ingin IA mengumbar

Auratnya, karena dia ibarat

Buah yang sedang ranum.”*

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku menjadi

Dewasa:*

“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh

Yang sholeh pada mereka,

Yang bibit, bebet, bobotnya baik Dan sesuai

Setara dengan keluarga

Kami.”*

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah:*

“Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak

Ini, aku takut kehilangan

Perhatiannya Dan takut kehilangan dia karena

Dia akan ikut suaminya.”*

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan

Melahirkan:*

“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan

Selamat. Aku inginkan nama

Pemberianku pada cucuku, karena aku ingin

Memanjangkan teritoria

Wibawaku sebagai ibu dari ibunya cucuku.”*

Ketika kupanjatkan DOA-DOA itu, aku

Membayangkan Allah tersenyum

Dan berkata….. .*

“Engkau ingin suami yang baik Dan sholeh

Sudahkah engkau sendiri baik

Dan sholehah?

Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau

Jadi makmum yang baik?”

“Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu

Ada padamu Dan pada

Suamimu. Jangan egois begitu…….. Masak

Engkau ingin anak yang

Sholehah hanya karena engkau ingin mereka

Mendoakanmu…..tentu mereka menjadi

Sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang

Mereka ikuti haruslah

Aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah

Islam, karena apa?……

Prestige? …….. Atau….mode? …..atau

Engkau tidak mau direpotkan

Dengan mendidik Islam padanya? Engkau juga

Harus belajar, engkau juga

Harus bermoral Islami, engkau juga harus

Membaca Al Quran Dan berusaha

Mengkhatamkannya. “

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak

Menebarkan pesonanya dengan

Mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya

Jengah untuk menutup aurat?

Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk

Keselamatan Dan kehormatan

Umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon

Menantumu, seolah engkau

Tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam

Al Quran-Ku. Percayalah

Kalau anakmu adalah anak yang sholihah maka

Yang sepadanlah yang dia

Akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan Dan

Menyusui anakmu. Aku yang

Memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan

Kehendaknya. Aku tetap

Mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,

Bahkan ketika dia

Melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. .. “

“Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah

Dari anakmu, berilah

Kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya

Sendiri yang menjadi

Amanahnya.”*

Lantas…… Aku malu…… Dengan imajinasi

Do’a-Ku sendiri….

Aku malu akan tuntutanku kepada-NYA.. . …..

Maafkan aku ya Allah……*

Redemption

Posted in Redemption dengan kaitan (tags) on Maret 22, 2009 by namakuhandi

Pelbagai masalah yang ada disetiap orang. Adalah sebuah kewajaran. Tanpa adanya itu, tidak akan ada peradaban ini. Karena dengan masalahlah manusia akan dihadapkan akan proses pendewasaan dan pengembangan diri.

Hanya saja, terkadang kita selalu mengambil sisi berbeda dalam menanggapi setiap masalah. Dan lebih sering sisi yang kita ambil adalah skeptic, pragmatis, dan pesimis. Karena hal itulah yang mudah kita lakukan. Ketika kita terjatuh, kita akan lebih mudah melakukan umpatan dan menyalahkan sesuatu yang membuat kita jatuh. Bukannya mencoba bangkit dan menyadari keketelodoran dan kekurang hatiannya kita untuk selanjutnya lebih berhati-hati dan waspada.

Dan kasus-kasus serupa banyak sekali kita alami dan temui. Dan bahkan jauh lebih banyak sikap pesimistis tinimbang sikap optimis. Betulkan ?!?

Coba kita cek lagi dilingkungan kita. Dan coba bandingkan lebih banyak mana mereka yang bersifat skeptic, pragmatis dan pesimistis tinimbang optimis, positif dan kreatif. *_^

Jujur, aku sendiri termasuk dalam kelompok yang pertama. Yang selalu memandang segala sesuatu dengan pesimis. Hehehehe… habis gimana ya. Itu adalah hal termudah untuk melarikan diri dari kenyataan. Betulkan ? (Betuuullll ß Koor mode on)

Tapi apakah hal seperti ini mesti dipertahankan ? Toh kita udah tahu kalo itu ngga ada positif-positifnya. So, gimana dong ?

Well, ada kata-kata magic lainnya, “Tiada kata terlambat.” Betul. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan yang salah. Tapi terkadang hal ini selalu kita lewatkan. Entah karena gengsi, atau karena ketidaktahuan kita, bahwa kesempatan selalu akan datang. Tinggal bagaimana kita menyikapi ketika kesempatan itu datang. Dan berharap kesempatan-kesempatan ini tidak akan pernah berakhir sehingga kita akan selalu dan selalu bisa memperbaiki hal yang kita anggap belum sempurna di kesempatan sebelumnya. Paling tidak kita masih mau mencoba.

Hla gimana kalo kesempatan itu udah ketutup ?

Selalu yakin, bahwa kesempatan pasti kembali meski bentuknya agak sedikit berbeda. Dan paling tidak, selama kesempatan itu belum kembali, lakuin hal yang positif yang bisa membangkitkan motivasi dan pikiran positif kita. Be positive thinking. Dan yakin bahwa semua itu adalah persoalan hati dan persoalan cara pandang kita. Karena terkadang, untuk melihat kesempatan itu, dibutuhkan hati yang lapang. Dan mata hati yang jernih untuk menangkap sinyal-sinyal kearifan. Well, semua kembali ke diri kita deh… untuk ngambil segi-segi positifnya.

Dan Batas itu telah limit

Posted in Opini, Redemption dengan kaitan (tags) , , on Maret 22, 2009 by namakuhandi

Setahuku, dalam sebuah perkawinan yang dibutuhkan adalah “sense of belonging”, dan bukannya “sense of sex” ataupun “sense of money”. Meskipun kedua hal terakhir itu, tetap merupakan satu bagian.

Tapi gimana jadinya kalo “sense of belonging” udah kita buang. Yang tersisa hanyalah sekam yang akan selalu menyala-nyala.

Apa bedanya dengan pergi ketempat pelacuran toh yang kita butuhkan hanyalah sex semata. Bahkan mungkin akan jauh lebih murah pergi ke prostitusi, yang notabene ngga perlu ngasih makan si pelacur, ngga perlu ngasih pengayoman (rumah, kendaraan, dan jatah blanja bulanan, tunjangan hari libur) toh kita cukup mbayar tariff yang sudah disepakati. Dan kita juga jadi ngga perlu mikir buat gimana mbayar cicilan rumah yang dah deket jatuh tempo, ataupun mbayar semua (yang harus kita bayar) sebagai pengeluaran rumah tangga. Jauh lebih efisien jadi bujangan jika yang kita anut hanyalah “sense of sex”.

Begitu juga kalo hanya “sense of money” yang digaungkan, jadi inget lirik lagu “abang disayang kalo banyak uang, dan ditendang kalo banyak utang”. Karena DIA ngga mau ikut pusing. Justru yang DIA dipusingin hanyalah, “Gimana gue bisa belanja baju, makeup, ma jalan-jalan. Kalo uang aja pas-pasan bahkan kurang!!” Namanya juga hidup, masing-masing orang punya nasib yang beda. Ada yang udah dari sononya tajir, tapi lebih banyak yang usaha dulu kembang kempis, dan tinggal menunggu hasil entah suatu saat. Hla klo mo hidup enak ya kawin ma orang tajir, tapi kalo mo hidupnya bersahaja, ya kawin ma yang kembang kempis (tapi mana ada yang mau, ya kan ?). At least orang susah, udah mempersiapkan dirinya agar jika suatu saat hidupnya berputar kebawah lagi, dia udah punya bekal untuk survive.

Beda klo kita nikah dilandasin ma “Sense of Belonging” tentunya yang seimbang dan timbal balik. Yang ada adalah setiap pasangan akan selalu saling dukung, dan bisa menjadi penyeimbang langkah satu sama lain, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, berjalan selangkah demi selangkah untuk meraih tujuan bersama. Dengan “sense” ini juga dalam menciptakan keluarga yang sakinah yang ngga melulu soal sex dan uang. Tapi apa bisa ?

Pasti banyak yang akan mencibir, “emangnya dengan rasa saling memiliki aja bisa nyukupin hidup ?”

Wah kalo sampai aku denger ada yang bertanya skeptic begitu, aku akan balik Tanya “emang tanpa rasa saling memiliki perkawinan kamu bisa survive?” coba kamu pejamkan matamu dan bertanyalah yang jujur, “Selama ini punyakah aku rasa memiliki itu ?” Jika jawabannya tidak,tentunya didalam perkawinanmu yang ada hanyalah sekam, yang tinggal menunggu kapan akan meledak.

Saling kecewa dan marah itu hanyalah sebuah emosi, bukan patokan bahwa didalam sebuah perkawinan tidak ada rasa memiliki. Karena manusia tercipta dilengkapi dengan emosi, tergantung sedang dalam posisi bagaimana emosi tersebut. Positif atau negative ?

Percaya deh, dengan “sense of belonging” disaat paling susah, justru akan memberikan kita energy positif (selama kita selalu “be positive thinking”, dan bisa memberdayakan otak dan memacu kreatifitas) pasti akan ada jalan keluar, dari setiap persoalan. Dan tentunya ngga lupa untuk selalu memohon lindunganNya, baik dalam sholat maupun dalam beraktifitas.

Tapi sebaliknya kalo kita memilih untuk membuang “sense of belonging” ini, percaya deh “dan batas itu telah limit”. Tinggal masalah waktu, pilar perkawinan itu akan runtuh total.

Masihkah aku dalam rengkuhMu

Posted in Redemption dengan kaitan (tags) on Maret 20, 2009 by namakuhandi

Hanyalah padaMu ku bersujud. Dan hanyalah kepadaMu aku memohon.

Aku tau, setiap hidup pastilah tidak selalu datar. Karena Engkau akan selalu mencobai umatmu untuk menguji keimanan yang tertanam didalam sanubarinya. Dan aku juga tahu bahwa tiap ujian yang Engkau berikan tidak akan membuat umatmu merasa terbebani karena keimanan itu.

Tapi, aku sendiri sadar, imanku tidaklah setebal bumi bahkan tak seteguh karang. Dan bahkan aku tak sungkan untuk mengabaikanMu. Tapi Engkau tetap menyayangiku. Sungguh aku sadar akan kebodohanku dan kenaifanku. Bahwa segala yang telah aku peroleh dan alami hingga saat ini tak lain karena sayangMu padaku.

Atau justru ini semua adalah murkaMu ? engkau biarkan aku terbuai dengan segala nikmat yang Engkau berikan. Seolah inilah kesempatan yang luas yang Engkau berikan kepadaku untuk ke nerakaMu. Ah… sungguh aku tak berani membayangkan neraka itu.

Aku Mohon AmpunanMu Yaa Alloh…

Begitu banyak hal yang mesti diselesaikan. Bahkan belum cukup satu macam selesai, yang lain telah mulai menyusul. Aku sudah tak tahu lagi harus sharing dengan siapa. Hanyalah Engkau yang Maha Mendengar segala keluhan bahkan dari makhluk yang berdosa sekalipun. Engkau yang tak pernah mencoba menggurui namun memberikan pedoman yang nyata. Engkau yang selalu memberikan kehangatan dalam hati insanmu yang gamang.

Yaa Alloh…

Aku telah berdosa, dengan berniat mati. Bahkan mati hanya untuk melarikan diri dari segala permasalahan ini. Tapi aku sendiri hingga detik ini, tak mampu membuat sebuah jawaban dan solusi untuk setiap permasalahan yang sedang aku hadapi. Sungguh Yaa Alloh… saat ini aku sendirian.

Ya Alloh…

Bagimu apalah arti ibadahku yang sedikit. Dan pengabaianku padamu sudah cukup bagimu untuk mengazabku. Tapi Yaa Alloh… aku mohon ampunanMu.

Janganlah engkau bebankan lagi padaku. Didunia ini aku sudah sendiri. Tak ada lagi yang bisa aku ajak sharing. Dan jika Engkaupun mengabaikanku. Ah… betapa nestapanya aku.

Tiap kali aku ingin sharing dengan siapapun didunia ini. Hanyalah beban yang aku dapat. Setahuku, Engkau ciptakan aku bukan untuk menjadi SuperMan. Andai saja engkau tuliskan nasibku menjadi sekaya Bill Gates, atau paling tidak seperti Abu Rizal Bakrie. Mungkin istriku sendiri ngga akan mencemoohku. Tapi aku sadar, pasti Engkau akan katakan “salah satu Nabiku pernah Aku buat nasibnya lebih buruk dari kamu, dan bahkan istrinyapun pergi meninggalkannya, tapi dia masih bisa bersabar.”

Haaaahhhhh….. InsyaAlloh deh aku bisa lebih bersabar. Andai Engkau juga bersedia memberikan pencerahanMu kepada istriku. Agar aku tak lagi merasa sendiri dalam menghadapi semua ini. Dan juga aku mohonkan padaMu “Berikanlah kemudahan dalam segala urusanku”

There’s something happen on me

Posted in Redemption dengan kaitan (tags) , , , on Maret 10, 2009 by namakuhandi

There’s something happen on me.

Ada sesuatu yang mulai berubah dari diriku. Aku yang dulu bisa lari dari semua hal yang membuatku muak. Tapi kini semua itu justru berbalik. Setiap kekeruhan yang terjadi justru membuatku semakin terbelenggu. Karena sungguh, aku sudha tak mungkin melepaskan semua ini.

Andai saja aku tidak perlu memikirkan ini. Andai saja aku ngga perlu diberi akal. Andai saja yang aku miliki hanyalah insting. Sekedar untuk bertahan hidup. Tapi, aku bukan hewan. Dan akupun bukanlah seonggok tanah yang bebas terinjak hanya karena memang seperti itulah nasib tanah. Selalu dibawah, dan pantas untuk diinjak. Tapi, aku masih bisa member salut untuk tanah. Karena tanpanya, kami, aku kaum manusia tidaklah mungkin mampu berdiri angkuh. Coba seandainya tanah ini diganti dengan air. Yang ada kita akan kehabisan tenaga hanya untuk mengusahakan sehirup-dua hirup udara. Atau seandainya tanah ini diganti dengan udara. Entah bagaimana kita jadinya. Andai kita burung mungkin akan mengepakkan sayap. Tapi seberapa jauh kita mampu terus-menerus mengepakkan sayap ?

Ah… andai aku tidak ada. Dan tidak tercipta diatas muka bumi ini yang hanya mengedepankan ideology hedonis dan materialistic. Segala-galanya dihitung dengan angka dan uang. Dan segalanya mesti dipenuhi meskipun terkadang kita diributkan untuk hal-hal yang ngga perlu itu. Konsumtif. Aku sendiri heran, jika ada mesin waktu dan bisa mbawa makhluk tempoe doeloe yang notabene hanya hidup dengan mengandalkan apa-apa yang nongol di bumi, yang kemudian mesti disuguhkan teknologi termutakhir. Mungkin mereka mampu untuk mempelajari teknologi ini, apalagi kalau ada yang memberi pengajaran secara intensif. Tapi apakah hati dan pandangan hidup mereka mampu terubah ? Apakah dengan kiasan yang mampu survive-lah yang akan bisa berdiri tegak diakhir cerita, mampu merubah kecintaan mereka akan sebuah kesederhanaan ? Dimana waktu tidaklah terlalu penting untuk diributkan. Tidak terlalu heboh manakala terjebak kemacetan yang krodit. Dan bahkan mungkin tidak terlalu memikirkan apakah besok mampu mengupload data di internet ? Atokah mengotak-atik facebook ?

Ah… andai saja, ada satu sisi yang bisa membuatku berpikir. Bahwa hidup ini perlu dihargai apa adanya. Layaknya kita hidup sebagai kaum manusia.

Ah… berpikir lagi dan lagi. Andai aku ngga perlu berpikir dulu. Tapi, mereka disana pasti mencibirku, jika aku melakukan itu seraya ngasih comment sinis “Hlah elo kan manusia. Masak ngga mau mikir ? Klo ngga mau mikir, pensiun aja jadi manusia”. Gubrak. Pensiun jadi manusia ? lalu jadi apa dong ? jadi kutu ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.